Posted on Tuesday, 3 April

“Happy” UTS!

Posted on Sunday, 25 March

Tulisan-tulisan di-blog ini hanyalah sebagai:

1. Penanda kalau saya pernah hadir di dunia, setidaknya ada sejarah tertulisnya.

2. Pengingat ketika tua nanti atau mati muda.

3. Pengingat saat tiba-tiba amnesia (karena sebenarnya potensi ‘lupa’ dalam diri saya sangat besar, Contohnya: Gak pernah bisa ingat lagi masa kelas 1-2 SD)

4. Dan faktor-faktor lain di luar kuasa manusia.

Semoga manusia-manusia di generasi masa depan masih bisa mengakses internet.

Posted on Thursday, 22 March

Today, after talking to Dad, I finally know where it have to head. Life now isn’t easy as it was back there in 1997 or 1998. Dad and mom just had enough to bear with us, the children. They are now 67 and 57, they are just too old, too tired, and too stressful for their retirement age.

We just don’t have money even for your one way ticket to come home. Even for your brother’s fee for his doctor’s competency examination.

It slapped me. What I have been doing? I thought that trying to apply this and that and go around the worlds like my friends do will be easy for me. But it is not, it is not easy for me. It, however, taking cost.

And I know from now on, I have to just put my focus right on my thesis, to live thriftily, to be strong, to graduate. Dad wants me to do it. And then I know, he will be proud of me. He is.

Posted on Tuesday, 7 February

In Jogja!

Le Me Name

Posted on Monday, 6 February

Prolog

Tersebutlah suatu hari seorang anak bungsu yang galau akan namanya. Ya, nama anak tersebut adalah Cut “Nuri-Nury” Hikmah “Sabry” (tanda “” artinya masih dalam konfirmasi). Sehari-hari ia dipanggil Uwi. Kenapa Uwi? Sudah sejak lama dia bertanya-tanya tapi sampai sekarang masih misterius kenapa sampai bisa dipanggil Uwi.

Mari kita anggap nama panggilan yang tidak memiliki korelasi dengan nama asli adalah hal yang biasa dan lumrah terjadi. Benar begitu bukan? Mari kita kembali ke kasus kegalauan si Uwi ini akan teka-teki nama Cut “Nuri-Nury” Hikmah “Sabry”. Kenapa si Uwi galau? Suatu hari di akhir kelas 3 SMA (Usia: 17 tahun) dia sedang mempersiapkan aplikasi ke Perguruan Tinggi dan butuh kelengkapan akte. Dia bingung karena ternyata tidak memiliki akte.

Chapter 1

Bertanyalah ia ke Ibunya,

Le Uwi : Mama, adakah uwi punya akte?

Le Mama : Sepertinya tidak ada, Anakku. Coba tanyakan ke Ayahmu.

Datanglah Uwi ke Ayahnya,

Le Uwi : Ayah, Uwi mau mengurus berkas untuk aplikasi masuk Perguruan Tinggi dan butuh akte. Adakah uwi punya akte lahir, Ayah?

Le Ayah : Sepertinya tidak, Anakku. Biarkan Ayah yang mengurusnya.

Akhirnya dalam dua minggu sang Ayah datang ke sekolah asrama tempat Uwi menuntut ilmu dan menyerahkan Akte Lahir bagi Uwi sekaligus KTP (Kartu Tanda Penduduk). Waktu berjalan lagi, Uwi kebingungan menyusun aplikasinya. Dia kebingungan dengan namanya sendiri. Dia melihat-lihat lagi ijazah TK, SD, sampai SMP. Ternyata namanya berbeda-beda.

Di rapor dan ijazah TK tertulis: Cut Nuri Hikmah

Di rapor dan ijazah SD tertulis: Cut Nuri Hikmah

Di rapor dan ijazah SMP tertulis: Cut Nuri Hikmah Sabry

Di rapor (dan nantinya ijazah—karena saat itu dia masih kelas 3) SMA tertulis : Cut Nuri Hikmah Sabry

Di akte lahir dan KTP (yang baru keluar tahun 2008, sementara Uwi lahir pada 1991) tertulis : Cut Nury Hikmah

Uwi pun bingung, kenapa selama ini dia tidak menyadarinya? Ada apa ini? Apa sebenarnya namanya yang sesungguh-sungguhnya? Jangan-jangan…

Uwi pun mencoba mengingat-ingat. Ketika akan masuk SMP, Ayahnya lah yang mengurus aplikasi dan mengetik (masih pake mesin tik) berkas-berkas kelengkapannya. Uwi hanya bermain-main dan ikut tes saja. Ayahnya pun kemudian menambahkan “Sabry” pada nama anaknya tersebut. Seingat Uwi dia pernah bertanya kenapa tiba-tiba pake “Sabry”. Jika ingatan Uwi tidak salah, ada satu alasan.

Le Ayah : Karena dalam Islam nama anak itu memang pake nama belakang Ayah-nya *lupa tepatnya argumennya gimana, kira-kira seperti ini*

Kedua, menurut Uwi sih, sang Ayah bangga ke anak perempuannya ini karena hampir selalu dapat ranking satu terus selama enam tahun di SD. Jadi (lagi-lagi menurut Uwi kecil saat itu) mungkin kalau ditanya orang, “Aduh, anak siapa itu pintar sekali? Siapa namanya?” , “Oh itu Uwi, namanya Cut Nuri Hikmah Sabry, pasti anak Pak Sabry” . Begitulah spekulasi Uwi saat itu (hingga kini). Si Uwi pun (karena masih kecil) tidak terlalu peduli dengan hal tersebut dan kembali bermain dengan riang.

Chapter 2

Nah, sekarang mari kita kembali ke Uwi yang berumur 17 tahun, yang tengah galau akan namanya. Akhirnya suatu hari, bertanyalah ia akan kegalauan ini pada Ayah dan Ibunya.

Le Uwi : Le Mama, apakah nama Uwi yang sebenarnya? Nuri pake “i” ataukah Nury pake “y”?

Le Mama : Memangnya kenapa, Anakku? Di ijazah dan akte ditulisnya apa?

Le Uwi : Lain-lain Mama, ada yang Nuri, Nury, ada yang pake Sabry ada yang enggak.

Le Mama : Aduh, coba tanyakan saja kepada Ayahmu, Anakku. Mama juga kurang tahu.

Kurang tahu? *jeger**petir di siang bolong*

Lalu kemudian bertanyalah Uwi kepada Ayahnya,

Le Uwi : Ayah, apakah nama Uwi yang sebenarnya? Kenapa beda-beda? Kenapa di ijazah dan akte serta KTP berbeda-beda? Uwi menjadi bingung mengurus aplikasi ini, Ayah.

Le Ayah : Mudah saja, Anakku. Apa yang dikatakan persyaratan dari aplikasinya?

Le Uwi : Sesuai akte lahir, Ayah. Dan Ijazah.

Le Ayah : Kalau begitu pakailah yang sesuai akte lahir dan ijazah.

Le Uwi : Jadinya gimana, Ayah? Cut Nury Hikmah Sabry jadinya?

Le Ayah : Iya, pakai itu saja.

Si Uwi tambah bingung dan akhirnya bertanya lagi,

Le Uwi : Ayah, sebenarnya Ayah dan Mama memberikan nama “Nuri” pake “i” atau Nury pake “y”?

Le Ayah : Coba tanya Mama

Le Uwi : Tapi kata Mama coba tanya Ayah, karena Mama kurang tahu

Le Ayah : *diam sebentar*

Le Ayah : Yang mana aja bisa. Lupa Ayah, mana tau lagi Ayah, sudah lama sekali.

Le Uwi : *bengong*

Epilog I

Uwi adalah anak kelima dari lima bersaudara. Uwi dan Kakak laki-laki pertamanya berjarak 18 tahun. Uwi dan Kakak perempuan kedua berjarak 16 tahun. Uwi dan Kakak perempuan ketiga berjarak 14 tahun. Uwi dan Kakak laki-laki nomor empat berjarak 8 tahun. Saat Uwi berumur 17 tahun Ayahnya berusia 63 tahun. Mungkin usia Ayahnya menjelaskan mengapa ini bisa terjadi. Semua Kakak-kakaknya memiliki nama yang normal dari SD hingga Perguruan Tinggi kecuali Uwi. Itulah kisah seorang anak yang secara status quo-nya bernama “Cut Nury Hikmah Sabry”. Semoga pembaca dapat mengambil hikmah dari cerita ini.

Epilog II

Cerita ini belum berakhir, pembaca. Tidak hanya sampai disitu, Di tahun 2009 setelah si Uwi, “Cut Nury Hikmah Sabry”, sudah mulai kuliah di pulau nan jauh dari rumahnya, dia membutuhkan paspor untuk bisa bepergian ke luar negeri. Datanglah Uwi ke tempat pembuatan paspor si suatu kota “D”.

Le Uwi : Saya ingin membuat paspor, Pak

Le Petugas Pembuat Paspor : KTP-nya, Mbak

Le Uwi : *menyodorkan KTP*

Le Petugas Pembuat Paspor : “Cut” itu apa ya Mbak?

Le Uwi : Eh? Cut itu…gak ada artinya, tapi semacam gelar bangsawan (kaum ulubalang) gitu kalau di Aceh. Dulunya, Pak. Historisnya yang saya tau seperti itu. Tapi sekarang gak ada pembedaan antara Cut-Teuku sama yang bukan. Semuanya sama. Itu hanya identitas yang menunjukkan keturunan bangsawan jaman dulu, Pak.

Le Petugas Pembuat Paspor : Hmm…berarti kayak Raden-raden gitu kalau di Jawa?

Le Uwi : *bingung* Yah, kira-kira begitulah, Pak! *padahal si Uwi gak tau Raden itu apa*

Le Petugas Pembuat Paspor : Oke oke, balik minggu depan ya. Paspornya selesai kira-kira seminggu.

Seminggu kemudian,

Le Uwi : Saya kembali lagi, Pak. Paspor saya sudah jadi?

Le Petugas Pembuat Paspor : Sudah, ini dia *sambil menyodorkan paspor*

Le Uwi : *melihat paspornya* (soundtrack: petir di siang bolong)

Le Uwi : Lho, Pak? Kok nama saya seperti ini jadinya?

Le Petugas Pembuat Paspor : Lho, kamu bilang Cut itu kayak gelar bangsawan gitu. Kalau di paspor gelar mah gak boleh dipake, kayak Raden atau gelar pendidikan, dsb. Kan katanya sama kayak Raden.

Le Uwi : *tidak mau berdebat lagi karena lemas dan paspornya sudah terlanjur jadi*

Rapor dan ijazah TK: Cut Nuri Hikmah

Rapor dan ijazah SD: Cut Nuri Hikmah

Rapor dan ijazah SMP: Cut Nuri Hikmah Sabry

Rapor dan ijazah SMA: Cut Nuri Hikmah Sabry

Akte Lahir: Cut Nury Hikmah

KTP: Cut Nury Hikmah

Status Quo: Cut Nury Hikmah Sabry

Paspor: First name: Nury Hikmah, Last name: Sabry (“Cut”-nya benar-benar “digunting dan dipotong” oleh petugas pembuat paspor -__-“)

The End

Semoga pembaca dapat mengambil “hikmah” dari cerita ini.

Assalamualaikum Wr. Wb. Selamat ulang tahun, semoga panjang umur, Nuri. Mama hanya bisa berdoa untuk Nuri agar Nuri berhasil. Mama sangat mencintai Nuri selama jantung Mama masih berdenyut. Mama selalu merindukan Nuri. Jangan tinggalkan shalat.

Posted on Monday, 6 February

Me mother (for my 21st birthday)

Le sweet trololol gift :D

Posted on Monday, 6 February

Hadiah dari @rullisyah (akun twitter masih belum dikonfirmasi)

1. Le tampak depan

2. Le closer

3. Le coba kita liat isinya

4. Le zoom in

5. Le me reaction

6. Le me face like

Posted on Sunday, 5 February

Had fun tonight with @mariyumaya @andrimubarak @novitaeliana mardha and @rullisyah (twitter account still need confirmation)

Thank you, friends :D

Selamat Ulang Tahun Uwi

Posted on Saturday, 4 February

Terimakasih buat semua yang udah ucapin, baik melalui sms, twitter ataupun facebook dan juga tumblr. Terima kasih semuanya. Semoga doa-doa dan harapannya dikabulkan oleh Allah SWT. Amin.

Di usia yang udah 21 ini Uwi cuma berharap semoga hidup ini semakin baik, semakin dekat sama Tuhan. Semoga hati ini selalu dikuatkan.

“Terima kasih, Tuhan, telah memberikan aku kesempatan untuk hidup sampai detik ini” *2 menit lagi berakhir tanggal 4 Februari*

Hobi uwi

Posted on Thursday, 2 February

uwi hobi nya ngambek hahaha

"???"

Posted on Thursday, 2 February

fuckyeahmahasiswa:

Ini ada surat dari Dirjen Dikti yang mewajibkan publikasi ilmiah

Posted on Thursday, 2 February

Kalau kamu ditanya “Ingin kado/hadiah apa untuk ulang tahun?” Kira-kira kamu jawab apa? Apa? Apa? Apa?

You randomly showed me this yesterday. It’s true story if you ask me :P

Posted on Wednesday, 1 February

You randomly showed me this yesterday. It’s true story if you ask me :P

In train

Posted on Wednesday, 1 February

There we ended up, in train. To where? To Yogya. After minutes of “jurus ngambek” finally you’re coming with me. You sat beside me in 8 hours trip to Yogya. You, sleepily, heard me babbling about the next trip we’re gonna have to Europe, just the two of us. And i fell asleep on your shoulders, in train to Yogya.

PS: I think you agree with me to just skip stories when we’re going back to Depok. Just pretend we’re making some scenes for movie back there.

Posted on Monday, 2 January

I will not delete it. It will be a history. Walaupun isinya kebanyakan bragging kisah cinta kita. I will not hide it. Bayangkan Sayang, dua puluh tahun lagi (jika aku memang ditakdirkan bersamamu dan meskipun tidak), aku dengan bangga akan menceritakan kepada anak-anak kita, anak-anakku. Percakapan-percakapan kecil kita. Pertengkaran kita. Momen indah kita yang terekam dalam blog sederhana ini. Bahkan jadwal kuliah kita yang bentrok. Semuanya kita jalani dengan cinta. Dan aku ingin menceritakan kisah cinta ini kepada mereka. Aku ingin mereka membacanya. Aku ingin mereka tumbuh dengan cinta, Sayang.